Cerita-cerita Baba Hi (Bagian 1)

Tentang apa yang ada di depan. Tidak ada yang tahu. Entah akan hidup. Atau jangan-jangan telah mati. Kita hanya menjadwal pada rencana-rencana. Juga harapan-harapan. Begitu tidak sampai. Barangkali ada jalan lain. Sebuah jalan yang akan membimbing jadi lebih baik. Begitu juga dengan Baba Hi. Diawal-awal remajanya. Begitu menyenangkan. Tidak kekurangan. Entah sandang maupun pangan-- lebih dari cukup. Orang tua berkecukupan. Dengan kepemilikan pabrik kacang. Yang hasil produksinya tidak besar. Tapi dapat memenuhi kebutuhan-- sekunder dan primer. Ketika saya tiba di rumahnya. Sekitar pukul 10.00 pagi. Saya disambut istri Baba Hi. Membuka pintu pagar. Dan mempersilahkan masuk. Setelah itu, masuk ke ruang utama. Sambil memanggil Baba Hi dengan panggilan Pak. Dari ruang yang dibatasi dinding. Baba Hi menjawab singkat “ya”. Tidak berapa lama. Baba Hi keluar menggunakan kursi roda. Ini pertemuan pertama saya. Wajahnya seperti keturunan Tionghoa. Strukturnya bulat. Kulit terang. Mata ag...