Cerita-cerita Baba Hi (Bagian 2)

Tahun 80-an hingga 90-an. Merupakan puncak kejayaan Baba Hi. Itu disampaikan secara tersirat. Ketika saya berkunjung ke rumahnya-- pasca lebaran lalu. Di tahun-tahun itu, pabrik kacang milik keluarganya sedang jaya-jayanya. Tidak heran jika segala keperluan Baba Hi terpenuhi. Cukup bahkan mungkin lebih. Tapi, hidup tidak tentang yang nyaman-nyaman saja. Pasti ada yang lain juga-- sebalik dari rasa nyaman itu. Selayaknya memang demikian bukan. Apa-apa pasti ada pasangannya. Jika ada putih, pasti ada hitam. Begitu seterusnya. Maka ketika masuk tahun 2000-an. Pabrik mulai mundur. Asap penggorengan pelan-pelan tidak mengepul lagi. Sudah pasti pemasukan juga berkurang. Persaingan pabrik kacang juga begitu. Keluarga Baba Hi bukan lagi satu-satunya. Kini sudah bermunculan yang lain juga. Mencoba peruntungan. Lagian, pabrik kacang tidak terurus baik. Baba Hi dan keluarganya tidak fokus. Salah satu kendala karena kakinya. Akibat dari kecelakaan di Jakarta. Sebab sekitar 1...