Menguji Sekolah


 

Siapa yang masih bingung setelah lulus sekolah; kemana? Jadi apa? Kerja apa? Jika ada diantara atau disekitar kita mengalami itu. Maka kemungkinan terjadi pada tiga hal; pertama sekolah gagal; kedua Anda yang gagal; ketiga semuanya gagal. Jika ingin jujur, itu adalah kegagalan yang sangat memprihatinkan.

Ketika memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman. Lalu, berjuang sendirian di Kota Makassar tahun 2008, banyak ekspektasi yang saya bawa. Dan, itu bukan hanya dari dalam diri saya tapi juga ekspektasi dari keluarga hingga tetangga. Ketika ekspektasi itu gagal, maka sudah pasti ada konsekuensinya. Terutama secara mental. Banyak orang dapat membuktikan itu.

Saya pernah gagal. Itu membuat saya tertekan. Tapi saya tidak menyerah. Saya bangkit lalu bertanya kepada apapun dan siapapun. Termasuk kepada diri saya sendiri. Apakah ketika selesai sekolah wajib berhasil menjadi karyawan atau pegawai negeri dan menghasilkan uang? Apakah itu tujuan dari sekolah?

Jika begitu sederhananya tujuan sekolah, kenapa mesti harus ribet dengan administrasi, waktu, jenjang, dan evaluasi? Bukankah menghasilkan uang itu cukup dengan bekerja? Tidak perlu dengan sekolah lebih dahulu bukan. Artinya, sekolah tidak penting. Tapi, kenapa harus dipentingkan? Siapa pula yang menginginkan sekolah itu dipentingkan?

Saya telah bertemu dan berdiskusi dengan banyak orang. Nyatanya menjawab semua pertanyaan itu tidaklah mudah. Sangat kompleks. Sangat sulit. Saya kemudian mengharuskan diri saya sendiri untuk mencari. Jawaban-jawaban dari berbagai orang yang pernah saya temui, saya padukan dengan sumber lain.

Tidak hanya satu tapi dengan berbagai macam. Seminar, workshop, buku, podcast, media mainstream, hingga budaya. Saya bahkan terlibat secara legal sebagai jurnalis agar memudahkan akses bertemu dengan banyak orang, dengan latar belakang berbeda. Inilah kemudian saya menemukan banyak perspektif. Tidak mudah men-judge.

Buku dan banyak saran digital mengarahkan saya pada sejarah. Tidak ada jawaban yang pasti jika tidak mulai membaca dari sana. Rupanya, permulaan sekolah yang kita lihat sekarang ini tidaklah mudah. Sekolah tidak hadir begitu saja seperti sihir abrakadabra kemudian jadilah. Sekolah adalah alat.

***

Sekolah dimulai ketika seorang filsuf mentereng hidup; Plato. Dalam banyak sumber, Plato adalah orang pertama yang menginisiasi adanya sekolah. Sekolah itu dinamai Akademia dan berdidiri sekitar tahun 387 SM. Dalam academia, sangat jauh berbeda dari sekolah hari ini. Academia tidak punya standar khusus. Academia hanya sebuah ruang yang diisi oleh orang-orang haus akan pengetahuan.

Academia tempat tumbuhnya pengetahuan pada tiap orang yang ingin belajar. Academia memberikan ruang seluas-luasnya untuk menggunakan otaknya untuk berpikir, kritis dan kreatif. Semua berhak tampil dengan style pengetahuannya. Tidak ada batasan pada ilmu-ilmu khusus atau bahasa kerennya sekarang; spesialisasi.

Academia kemudian berlanjut pada masa kejayaan Abbasid yang saat ini berada di Baghdad, Irak. Jika berkaca pada literatur, kejayaan Abbasid sanga dipengaruhi oleh masa Umayyah. Di masa Umayyah inilah dasar kejayaan Abbasid itu dimulai yakni toleransi. Tidak heran kemudian, Abbasid muncul sebagai masa pencerahan ketika Eropa dilanda kegelapan.

Jika pada masa itu telah ada penghargaan semacam nobel. Maka orang-orang Abbasid akan meraih penghargaan dibidang sains terbanyak di dunia. Tidak hanya dibidang sains tapi juga filsafat, kedokteran, budaya hingga astronomi. Sebut saja diantaranya Ibnu Sina, Al Biruni, Ibn Al Haytam, Al Khawarizmi, dan masih banyak lagi yang lain.

Keemasan sekolah di masa Abbasid kemudian dihancurkan oleh penyerangan Hulagu Khan, yang merupakan keturunan Gengis Khan yang terkenal. Kebangkitan sekolah pada masa selanjutnya, tidak lagi terpusat. Kemudian, pada masa penaklukan Polandia oleh Prussian Empire/bangsa Jerman menjadi titik baliknya.

Pasca penalukan itu, oleh Frederick The Great dilakukan perombakan. Sekolah lalu dipandang sebagai tempat penaklukan pikiran. Perubahan ini dilatarbelakangi untuk melakukan doktrinasi kepada anak muda Polandia. Sebab untuk menaklukkan orang dewasa sangat sulit. Frederick kemudian bertemu dengan Julius Hecker tahun 1763.

Ditahun itu kemudian dicetuskan standarisasi pertama sekolah yang kemudian hari ini disebut sebagai Prussian Model. System inilah yang kemudian menjadi dasar peletakan system pendidikan 8 tahun. Pengaturan ini bermula pada waktu masuk dan pulang. Lalu materi yang diajarkan hanya berfokus pada empat topik yakni membaca, menulis, menyanyi dan agama.

Sementara untuk materi sains tidak akan pernah diajarkan pada model sekolah ini. Sebab, pelajaran seperti sains dan matematika ditempatkan secara eksklusif. Hanya boleh diberikan dengan syarat membayar lebih. Dengan kata lain hanya berlaku untuk orang kaya. Artinya, warga Polandia dilarang untuk berpikir; ikut dan manut kepada penguasa.

Dampak dari sekolah model ini sangatlah kuat. Salah satunya membuat anak-anak muda Polandia yang dulunya sekolah, mulai lupa jika negaranya ditaklukkan. Bahkan, dalam beberapa literatur disebutkan bahwa anak muda Polandia ketika itu sering bersilang pendapat dengan orang tua tentang budaya dan indentitasnya.

Setelah melihat dampaknya secara luas. Seorang politisi Amerika bernama Horace Mann melakukan modifikasi pada Prussian Model. Menariknya, Mann adalah seorang advokat anti perbudakan. Sementara modifikasi terhadap sekolah Prussian Model seperti melonggarkan perbudakan dengan gaya baru; doktrinasi, pembunuhan terhadap daya pikir kritis dan kreatif.

Salah satu yang dimodifikasi oleh Mann yakni melakukan standarisasi grading kelas. Misalnya, pada umur yang sama harus duduk di kelas yang sama dan lulus pada waktu yang sama. Ide ini kemudian diserap oleh seluruh lembaga pendidikan di dunia, termasuk di Indonesia. Bermula ketika Deandles menjadi penguasa Hindia di masa lalu.

Modifikasi standar sekolah oleh Mann ini kemudian diwujudkan dengan mendirikan Messachusetts of Education tahun 1837. Atas dedikasinya itu, Amerika kemudian menyematkan Bapak Reformasi kepada Mann. Dampak yang ditimbulkan oleh modifikasi Mann tidak langsung dirasakan. Bahkan setelah kematiannya pada tahun 1859 di Ohio.

Tahun 1900-an, terjadi revolusi industry. Salah satu tokoh pentingnya adalah orang yang sangat kaya raya bernama John D Rockfeller. Rockfeller ini merupakan bankir dan pemilik perusahaan minyak terkenal dimasa itu hingga hari ini bersama anak perusahaannya, Standar Oil. Rockfeller memandang bahwa sekolah harus dilakukan standarisasi agar diterima industri.

Sekolah kemudian dinaikkan sedikit levelnya. Terutama dari segi mata pelajaran yang diajarkan seperti matematika dan sains. Tapi, untuk doktrinasi patuh tetap menjadi porsi yang paling banyak. Tidak heran kemudian, ada kekerasan fisik, harus berbaris baru masuk kelas, wajib angkat tangan jika ingin menjawab atau ke toilet dan lain sebagainya masih ada di sekolah.

Jadilah sekolah seperti pabrik yang mencetak para calon pekerja, sebagaimana kita lihat hari ini. Kebebasan berpikir diobrak-abrik dengan berbagai macam aturan. Sekolah dibungkam dengan ketakutan. Kampus dipaksa dengan aturan 30 persen suara untuk pemilihan rektor adalah hak Menteri. Organisasi kampus dilarang. Dan, masih banyak lagi.

Apakah peran Rockefeller dan Standar Oil berhenti sampai disitu. Maka jawabannya tidak. Sekolah terus diawasi dengan berbagai macam bentuk. Utamanya iming-iming bantuan pendanaan melalui dana corporate social responsibility (CSR) melalui Rockefeller Foundation. Dari sinilah tegukan doktrin terus dilakukan.

Sebuah quotes yang sangat terkenal dari John D Rockefeller “I don’t want a nation of thinkers. I want a nation of workers” artinya saya tidak menginginkan bangsa yang berpikir, saya ingin bangsa pekerja”. Sangat jelas bukan. Orang-orang seperti Rockefeller, keluarga atau orang yang mirip cara berpikirnya, memandang berbahaya orang yang pandai menggunakan otaknya untuk berpikir.

***

Tahun 2018, saya bersama beberapa kawan dari berbagai kampus di Kota Makassar memulai sebuah kegiatan pendidikan di Tallo. Perkumpulan itu kami sebut sebagai Komunitas Ruang Abstrak Literasi. Pendidikan yang kami lakukan tidak seperti sekolah umum; butuh ruang kelas, kualifikasi guru, hingga evaluasi dalam bentuk angka. Semua itu dihilangkan.

Meski begitu, beberapa bentuk yang diberlakukan di sekolah tetap kami adopsi. Satu diantaranya pemakaian kurikulum. Tapi, disini saya ingin memberikan catatan. Bahwa kurikulum yang dimaksud ini tidak mencakup secara kompleks seperti yang kita maknai hari ini ini. Tapi, kurikulum itu sangat sederhana karena hanya mencakup bahan ajar yang melatih daya nalar kritis dan kreatifitas. 

Sekolah ini masih berlangsung hingga hari ini. Meski secara kemewahan, sangat jauh. Apalagi, telah banyak dari kawan kami yang beraktifitas lain. Terutama untuk kehidupan bersama keluarganya. Tapi api semangatnya tetap dinyalakan. Meski kadang terseok-seok juga. Sekolah itu bagian pentingnya bukan soal ada atau tidak tapi soal dampak. Dan inilah yang membuat kami bertahan.

Praktek lapangan dengan keterlibatan diberbagai kegiatan pendidikan, diskusi dan berbagai literatur dari kawan-kawan di Ruang Abstrak Literasi ini membuat saya secara perlahan dapat membaca situasi dan keadaan sekolah hari ini. Bahkan, dari sini pula saya kemudian menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan saya di masa lalu.

Sekolah tidak sesederhana yang kupikirkan; ruang yang membebaskan sepanjang itu tidak dilarang. Jika sekolah hanya menjadi cahaya di tengah kegelapan dengan mengorbankan kebijaksanaan, maka itu kemunafikan. Penerimaan pada tiap yang tidak ideal itu kadang diperlukan untuk melakukan internalisasi diri agar tidak mudah dibawa ke lembah keegoisan.

Sekolah juga tidak sesulit yang dipikirkan orang; dimaknai kerdil hanya tempat untuk transfer ilmu dengan segala macam olah aturannya. Sekolah harus dikembangkan menuju tempat pertemuan untuk berbicara dari jiwa ke jiwa. Sebab, dari temu orang per orang itu keterikatan jiwa dapat ditumbuhkan. Jika diawal diselimuti keegoisan, kekuatan untuk percaya tetap harus dinyalakan. Bukankan tiap-tiap kekurangan ada kelebihan.

Pada posisi ini, dimana saya terlibat secara langsung di sekolah, tahu jika sekolah dalam bentuk yang kita lihat sekarang, punya keterbatasan. Juga punya kekurangan. Bahkan, punya tujuan doktrinasi dan pengkerdilan pikiran. Proses untuk merubah itu, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pun ketika saya berada di dalam.

Perubahan akan terus terjadi. Juga perubahan dalam pendidikan. Sebab di dalam bentuk dan bidang apapun, perubahan itu sesuatu yang natural. Tugas saya, Anda dan kita semua yang peduli kepada sekolah dan pendidikan adalah berbuat baik. Berbuat dengan hal-hal kecil yakni dari diri sendiri dan keluarga.

Pondasi dasar terciptanya sekolah, pendidikan dan peradaban yang baik, dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Merawat dan mendidik anak hingga tumbuh dewasa, bersama pikiran yang terbuka, toleran, kritis dan kreatif menjadi bahan wajib pengajaran dalam lingkungan keluarga. Sehingga ketika masuk masa sekolah, anak tidak lahir seperti siswa dan mahasiswa hari ini yang kehilangan arah; riset Indonesia Career Center Network 87% mahasiswa merasa salah jurusan dan riset youthmanual 92 persen siswa SMA bingung mau kerja apa.

Atau paling miris menjadi produk sekolah rasa pabrik, dengan menjadi kelas pekerja seperti kemauan Rockefeller. Tidak mejadi pemikir seperti tujuan sekolah academia Plato di masa silam, melahirkan pendebat dan pemikir kuat seperti Aristoteles yang menjadi peletak dasar pembagian ilmu pengetahuan. #akumencintaimu

Komentar

  1. wah setuju kak, jadi tertarik dengn komunitas ruang abstrak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan cek IG-nya Ruang Abstrak Literasi. Dalam waktu dekat, saya bersama kawan-kawan di sana akan berkegiatan yang sangat menarik.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

W Super Club

Menghidupkan Kembali Tallo

Merefleksi Kembali Tujuan Pendidikan