Postingan

Cerita-cerita Baba Hi (Bagian 1)

Gambar
Tentang apa yang ada di depan. Tidak ada yang tahu. Entah akan hidup. Atau jangan-jangan telah mati. Kita hanya menjadwal pada rencana-rencana. Juga harapan-harapan. Begitu tidak sampai. Barangkali ada jalan lain. Sebuah jalan yang akan membimbing jadi lebih baik. Begitu juga dengan Baba Hi. Diawal-awal remajanya. Begitu menyenangkan. Tidak kekurangan. Entah sandang maupun pangan-- lebih dari cukup. Orang tua berkecukupan. Dengan kepemilikan pabrik kacang. Yang hasil produksinya tidak besar. Tapi dapat memenuhi kebutuhan-- sekunder dan primer. Ketika saya tiba di rumahnya. Sekitar pukul 10.00 pagi. Saya disambut istri Baba Hi. Membuka pintu pagar. Dan mempersilahkan masuk. Setelah itu, masuk ke ruang utama. Sambil memanggil Baba Hi dengan panggilan Pak. Dari ruang yang dibatasi dinding. Baba Hi menjawab singkat “ya”. Tidak berapa lama. Baba Hi keluar menggunakan kursi roda. Ini pertemuan pertama saya. Wajahnya seperti keturunan Tionghoa. Strukturnya bulat. Kulit terang. Mata ag...

Cerita Lebaran

Gambar
Hari pertama lebaran. Sungguh sangat menyenangkan. Meski juga menyedihkan-- tidak bersama keluarga di Sinjai. Di hari pertama itu. Saya sungguh dalam suasana baru. Begitu juga harapan baru. Bersama keluarga kecil-- di Bara-barayya Utara. Dihari itu, saya langsung diperkenalkan toleransi yang kuat. Bapak mertua saya. Memiliki seorang teman-- non muslim. Etnis Tionghoa pula. Banyak dari kita cukup menghindar. Tidak sedikit mengumpat. Kepada mereka yang manusia juga. Namanya Baba Hi-- begitu Bapak memanggilnya. Nama aslinya Ferry Chananta. Umurnya tidak terlalu jauh dari Bapak. Dulu, katanya mereka teman sepermainan. Jika libur, Bapak mengunjungi rumah Baba Hi. Di daerah pecinan-- sekitar Jalan Sulawesi. Rumah Baba Hi sangat luas. Sayang, sudah dijual. Kini sudah jadi rumah toko. Juga rumah tinggal. Jadinya ada 24 rumah tinggal dan rumah toko. Kebayangkan, betapa luas rumah itu-- dulu. Menurut Bapak, di area rumah Baba Hi dulu ada lapangan olahraga-- basket. Awal mula Bapak dan ...

Penghabisan Oposisi

Gambar
Bergabungnya Prabowo Subianto dan Partai Gerindra pada pemerintahan Joko Widodo memang cukup mengejutkan. Dua sahabat lama kembali semeja bersama dengan hidangan nasi goreng. Itu setelah sekian purnama tak berjumpa. Yakni ketika Pilpres 2009 lalu. Manuver itu pun membuat sejumlah orang kebakaran jenggot. Tentu yang kebakaran jenggot ini adalah mereka yang memiliki jenggot. Tahun kan siapa. Partai pengusung Joko Widodo pun seperti terbelah ketika itu. Tapi rupanya hanya sebentar. Setelah lakon dipertengkarkan. Tibalah sang dalang minum kopi dibalik layar. Sambil tertawa dan berkelakar. Tentang kebingungan yang terjadi pada arus bawah masyarakat tidak jadi soal. Partai seperjuangan Gerindra mencak-mencak. Akan berdiri digaris terdepan sebagai oposisi. Tapi kicaunya hanya sebentar. Setelahnya diam seribu bahasa. Waktu terus berputar. Hingga kini tidak ada lagi suara-suara oposisi itu. Kebenaran seperti dimonopoli. Perbedaan dipaksa menjadi menjadi persatuan. Persatuan untuk tidak menentan...

Lebaran Pertama Tanpa Ibu

Gambar
  Tiap tahun, di hari lebaran. Semua serasa baru. Tidak hanya pakaian. Ada harapan baru. Kadang juga suasana haru. Untuk yang terakhir. Saya barangkali, dapat dikata begitu. Musababnya, ini tahun pertama tidak lebaran bersama keluarga-- di kampung. Disisi lain juga menyenangkan. Lebaran bersama keluarga baru. Ceritanya begini-- dua hari sebelum lebaran. Saya memberitahu Ibu saya. Jika tahun tidak pulang kampung. Saya akan lebaran di Makassar. Tempat saya berinteraksi sekitar 14 tahun terakhir. Tempat dimana saya menemukan tambatan hati. Lalu mempersuntingnya-- hampir setahun lalu. Seperti biasanya. Ibu saya masih merengek. Berharap anak pertama ini hadir disisinya. Itu wajar, saya kira. Apalagi, hampir tiga tahun ini. Saya sangat dekat Beliau. Entah kenapa begitu. Saya juga kadang merasa aneh. Kenapa baru tiga tahun ini. Kenapa tidak sejak lama. “Saya akan lebaran di Makassar” kata saya melalui telepon. Setelah itu, tidak ada suara. Sunyi lalu ada perasaan getir. Tidak lama...

CILUKBA

Gambar
  Keluarga. Hari ini saya berpikir apa arti dari kata itu. Apakah sebuah singkatan? Sebuah imajinasi? Atau apa? Yang pasti, dua bulan ini saya merasakan sesuatu; hubungan. Ya, keluarga itu keterhubungan. Bayangkan! Jika kita tidak memiliki “keterhubungan” dalam keluarga. Kita akan merasakan kehilangan. Bahkan kesendirian. Saya baru saja menonton sebuah video di youtube. Hanya tujuh menit, empat puluh tiga detik. Sangat singkat. Tapi menghentakkan pikiran saya. Isinya, seorang anak kecil umur tujuh tahun. Namanya Molly Wright. Berbicara tanpa rasa malu. Senyum di bibirnya begitu manis. Lucu dan menggemaskan. Tapi tunggu. Pikiran Molly cerdas. Sampai saya kaget bukan main. Di awal video, Molly memberi tahu jika permainan cilukba dapat mengubah dunia. Bangsat kan kalimatnya. Jika Anda kaget. Sejujurnya Anda tidak sendirian. Saya dan ribuan orang di depan Molly serta jutaan orang yang telah menonton videonya juga sama. Setelah semua orang tertawa. Molly lalu menimpali kalimatnya ...