Postingan

Cerita-cerita Baba Hi (Bagian 2)

Gambar
Tahun 80-an hingga 90-an. Merupakan puncak kejayaan Baba Hi. Itu disampaikan secara tersirat. Ketika saya berkunjung ke rumahnya-- pasca lebaran lalu. Di tahun-tahun itu, pabrik kacang milik keluarganya sedang jaya-jayanya. Tidak heran jika segala keperluan Baba Hi terpenuhi. Cukup bahkan mungkin lebih. Tapi, hidup tidak tentang yang nyaman-nyaman saja. Pasti ada yang lain juga-- sebalik dari rasa nyaman itu. Selayaknya memang demikian bukan. Apa-apa pasti ada pasangannya. Jika ada putih, pasti ada hitam. Begitu seterusnya.   Maka ketika masuk tahun 2000-an. Pabrik mulai mundur. Asap penggorengan pelan-pelan tidak mengepul lagi. Sudah pasti pemasukan juga berkurang. Persaingan pabrik kacang juga begitu. Keluarga Baba Hi bukan lagi satu-satunya. Kini sudah bermunculan yang lain juga. Mencoba peruntungan.   Lagian, pabrik kacang tidak terurus baik. Baba Hi dan keluarganya tidak fokus. Salah satu kendala karena kakinya. Akibat dari kecelakaan di Jakarta. Sebab sekitar 1...

Gorden

Gambar
  Pertengahan puasa lalu. Rumah tampak sedikit berubah. Mungkin karena lebaran sudah dekat. Maka dekorasi rumah sedikit diubah. Salah satunya gorden diganti. Kata Ibu Mertua saya, itu memang sudah lama. Dan baru kali ini diganti. Mau juga dicuci.   Rumah mertua saya sederhana. Tapi cukup menampung kami berlima. Karena itu, gorden tidak banyak. Di dekat pintu utama. Hanya ada dua helai. Kemudian di pintu menuju dapur, ada satu. Lalu agak masuk. Di dekat dapur. Tepatnya di pintu kamar mertua saya. Juga ada satu.   Jadi total, hanya ada empat helai. Harganya, sangat terjangkau. Hanya Rp.100.000-an satu helai. Cukup untuk kantong keluarga kami. Belinya di tiktok. Memang sejak awal ramadhan lalu. Ibu Mertua saya minta didownloadkan tiktok.   Bukan untuk joget-joget. Sambil menunggu viral; bukan. Lagian Beliau tidak begitu. Demam panggung. Juga di depan kamera. Katanya, suatu waktu. Dirinya tidak percaya diri. Karena itu, tiktok hanya untuk hiburan. Sekedar car...

Rektor

Gambar
Di Makassar. Dua perisitwa besar baru saja terjadi. Bersentuhan dengan bulan Ramadhan. Tentu kita semua berharap berkahnya. Pertama, Senin 18 April 2022. Seorang laki-laki kelahiran Bone. Kental dibidang akademik. Peraih penghargaan H-Index Scopus tertinggi. Namanya Prof Batara Surya.   Alumni Universitas 45-- kini Universitas Bosowa. Mengambil jurusan planologi. Diajukan sebagai calon tunggal. Kemudian diputuskan menduduki jabatan rektor. Di tempat dirinya menimba ilmu dulu. Prof Surya menggantikan Prof Saleh Pallu-- menjabat dua periode.   Seusai pelantikan. Dalam sebuah wawancara kepada media. Ada satu hal menarik yang disampaikan Prof Surya. Tidak akan melepas mahasiswa begitu saja. Seusai mereka menyelesaikan masa kuliah. Akan ada tambahan majelis ilmu. Sekitar 4-6 bulan akan digembleng. Agar betul-betul siap tempur.   Salah satu yang jadi perhatian. Tentang penguasaan ilmu wirausaha. Juga tentang penguasaan teknologi. Saya kira ini inovasi. Barangkali ...

Cerita-cerita Baba Hi (Bagian 1)

Gambar
Tentang apa yang ada di depan. Tidak ada yang tahu. Entah akan hidup. Atau jangan-jangan telah mati. Kita hanya menjadwal pada rencana-rencana. Juga harapan-harapan. Begitu tidak sampai. Barangkali ada jalan lain. Sebuah jalan yang akan membimbing jadi lebih baik. Begitu juga dengan Baba Hi. Diawal-awal remajanya. Begitu menyenangkan. Tidak kekurangan. Entah sandang maupun pangan-- lebih dari cukup. Orang tua berkecukupan. Dengan kepemilikan pabrik kacang. Yang hasil produksinya tidak besar. Tapi dapat memenuhi kebutuhan-- sekunder dan primer. Ketika saya tiba di rumahnya. Sekitar pukul 10.00 pagi. Saya disambut istri Baba Hi. Membuka pintu pagar. Dan mempersilahkan masuk. Setelah itu, masuk ke ruang utama. Sambil memanggil Baba Hi dengan panggilan Pak. Dari ruang yang dibatasi dinding. Baba Hi menjawab singkat “ya”. Tidak berapa lama. Baba Hi keluar menggunakan kursi roda. Ini pertemuan pertama saya. Wajahnya seperti keturunan Tionghoa. Strukturnya bulat. Kulit terang. Mata ag...

Cerita Lebaran

Gambar
Hari pertama lebaran. Sungguh sangat menyenangkan. Meski juga menyedihkan-- tidak bersama keluarga di Sinjai. Di hari pertama itu. Saya sungguh dalam suasana baru. Begitu juga harapan baru. Bersama keluarga kecil-- di Bara-barayya Utara. Dihari itu, saya langsung diperkenalkan toleransi yang kuat. Bapak mertua saya. Memiliki seorang teman-- non muslim. Etnis Tionghoa pula. Banyak dari kita cukup menghindar. Tidak sedikit mengumpat. Kepada mereka yang manusia juga. Namanya Baba Hi-- begitu Bapak memanggilnya. Nama aslinya Ferry Chananta. Umurnya tidak terlalu jauh dari Bapak. Dulu, katanya mereka teman sepermainan. Jika libur, Bapak mengunjungi rumah Baba Hi. Di daerah pecinan-- sekitar Jalan Sulawesi. Rumah Baba Hi sangat luas. Sayang, sudah dijual. Kini sudah jadi rumah toko. Juga rumah tinggal. Jadinya ada 24 rumah tinggal dan rumah toko. Kebayangkan, betapa luas rumah itu-- dulu. Menurut Bapak, di area rumah Baba Hi dulu ada lapangan olahraga-- basket. Awal mula Bapak dan ...

Penghabisan Oposisi

Gambar
Bergabungnya Prabowo Subianto dan Partai Gerindra pada pemerintahan Joko Widodo memang cukup mengejutkan. Dua sahabat lama kembali semeja bersama dengan hidangan nasi goreng. Itu setelah sekian purnama tak berjumpa. Yakni ketika Pilpres 2009 lalu. Manuver itu pun membuat sejumlah orang kebakaran jenggot. Tentu yang kebakaran jenggot ini adalah mereka yang memiliki jenggot. Tahun kan siapa. Partai pengusung Joko Widodo pun seperti terbelah ketika itu. Tapi rupanya hanya sebentar. Setelah lakon dipertengkarkan. Tibalah sang dalang minum kopi dibalik layar. Sambil tertawa dan berkelakar. Tentang kebingungan yang terjadi pada arus bawah masyarakat tidak jadi soal. Partai seperjuangan Gerindra mencak-mencak. Akan berdiri digaris terdepan sebagai oposisi. Tapi kicaunya hanya sebentar. Setelahnya diam seribu bahasa. Waktu terus berputar. Hingga kini tidak ada lagi suara-suara oposisi itu. Kebenaran seperti dimonopoli. Perbedaan dipaksa menjadi menjadi persatuan. Persatuan untuk tidak menentan...

Lebaran Pertama Tanpa Ibu

Gambar
  Tiap tahun, di hari lebaran. Semua serasa baru. Tidak hanya pakaian. Ada harapan baru. Kadang juga suasana haru. Untuk yang terakhir. Saya barangkali, dapat dikata begitu. Musababnya, ini tahun pertama tidak lebaran bersama keluarga-- di kampung. Disisi lain juga menyenangkan. Lebaran bersama keluarga baru. Ceritanya begini-- dua hari sebelum lebaran. Saya memberitahu Ibu saya. Jika tahun tidak pulang kampung. Saya akan lebaran di Makassar. Tempat saya berinteraksi sekitar 14 tahun terakhir. Tempat dimana saya menemukan tambatan hati. Lalu mempersuntingnya-- hampir setahun lalu. Seperti biasanya. Ibu saya masih merengek. Berharap anak pertama ini hadir disisinya. Itu wajar, saya kira. Apalagi, hampir tiga tahun ini. Saya sangat dekat Beliau. Entah kenapa begitu. Saya juga kadang merasa aneh. Kenapa baru tiga tahun ini. Kenapa tidak sejak lama. “Saya akan lebaran di Makassar” kata saya melalui telepon. Setelah itu, tidak ada suara. Sunyi lalu ada perasaan getir. Tidak lama...