Postingan

Silau Bahaya Dentuman Korea

Gambar
  Saya lupa waktunya. Tapi, saya tidak akan pernah saya lupa topiknya. Seorang mahasiswa mengajukan sebuah proposal. Diajukan untuk mendapat pendanaan. Saya juga lupa; apakah mahasiswa itu berhasil atau tidak mendapatkan pendanaan. Judul proposal itu menarik. Kurang lebih begini; Belajar Budaya Tabe dalam Drama Korea. Sejujurnya, saya tertegun. Lebih tepatnya kaget. Saya lalu mencari beberapa referensi tentang drama korea. Termasuk menonton salah satu diantaranya; tidak menghabiskan episodenya-- tidak sanggup. Saya beralih ke film. Beberapa saya nonton. Miracle in Cell No 7, Memories of Murder hingga Parasite. Dan, ya secara faktual, budaya tabe dalam drama korea maupun dalam filmnya cukup kental. Seperti membungkuk ketika bertemu orang baru atau kepada orang yang lebih tua. Ini sebagai bentuk penghargaan, menghormati, dan tafsiran lain yang sejenis. Sekilas, sikap itu mirip dengan budaya tabe pada suku Bugis Makassar. Tidak salah. Tapi soalnya kemudian, kenapa proposal it...

Menguji Sekolah

Gambar
  Siapa yang masih bingung setelah lulus sekolah; kemana? Jadi apa? Kerja apa? Jika ada diantara atau disekitar kita mengalami itu. Maka kemungkinan terjadi pada tiga hal; pertama sekolah gagal; kedua Anda yang gagal; ketiga semuanya gagal. Jika ingin jujur, itu adalah kegagalan yang sangat memprihatinkan. Ketika memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman. Lalu, berjuang sendirian di Kota Makassar tahun 2008, banyak ekspektasi yang saya bawa. Dan, itu bukan hanya dari dalam diri saya tapi juga ekspektasi dari keluarga hingga tetangga. Ketika ekspektasi itu gagal, maka sudah pasti ada konsekuensinya. Terutama secara mental. Banyak orang dapat membuktikan itu. Saya pernah gagal. Itu membuat saya tertekan. Tapi saya tidak menyerah. Saya bangkit lalu bertanya kepada apapun dan siapapun. Termasuk kepada diri saya sendiri. Apakah ketika selesai sekolah wajib berhasil menjadi karyawan atau pegawai negeri dan menghasilkan uang? Apakah itu tujuan dari sekolah? Jika begitu sederhana...

Merefleksi Kembali Tujuan Pendidikan

Gambar
  Saya ingat betul ketika saya memilih penelitian kualitatif untuk tesis; banyak tantangan. Salah satunya, datang dari dosen sendiri. Penelitian kualitatif dipandang tidak kuat secara riset untuk tema tentang prodi yang saya ambil. Itu tidak soal; kupikir. Sebab, itu perspektif yang barangkali punya landasan berpikir sendiri. Tapi, sejak itu pula, pikiran saya selalu bertanya. Apakah jenis penelitian yang agak asing atau kurang diminati dalam sebuah komunitas dapat dijadikan dasar bahwa hasil riset itu tidak kuat? Pertanyaan ini terus mengganggu saya. Tapi kemudian, beberapa literatur menyadarkan saya, bahwa hal yang semacam itu sangatlah kompleks. Sebuah wawancara yang publikasikan oleh endgame; kanal youtube milik Gita Wirjawan, pada akhirnya menjawab pertanyaan itu. Yanuar Nugroho salah satu narasumbernya; seorang aktivis dan akademis yang disegani. Seorang birokrat sejati. Pernah menjabat Deputi II Kepala Staf Kepresidenan. Lalu kini Koordinator Tim Ahli di Sekretariat Na...

Fahri Hamzah Bukti Demokrasi Telah Mati

Gambar
  Saya tidak tahan lagi; bangsat. Mohon maaf, pikiran saya sudah sangat kacau. Akibatnya, kata itu tidak bisa lagi saya bendung. Kata itu, pada dasarnya menolak untuk dikatakan. Tapi, harus dan terpaksa dikatakan. Saya teringat belasan tahun silam. Ketika, masih aktif di kampus dulu. Salah seorang senior, sering mengeluarkan kalimat satir. “Tidak perlu kau mati bunuh diri dengan meminum racun Bung tapi cukup kau tutup pintu kamar kost-mu lalu merenungkan bagaimana kau memperbaiki negara ini,” katanya. Kini kalimat itu, layak jadi pertimbangan --barangkali. Hihi. Hari-hari ini, dan hari-hari sebelumnya --dalam kurung 1 dekade ini. Kita rasanya tidak pernah bisa mendapati seorang negarawan sejati itu; sulit betul, yang cita-citanya membawa bangsa ini seperti burung garuda --terbang ke angkasa raya dengan menggenggam kejujurn dan keadilan untuk kesejahteraan rakyat. Dulu, pernah saya mengharapkan itu kepada seorang Fahri Hamzah. Saya terpikat betul kepadanya. Tiap ada wacana p...

Enigma Rencana

Gambar
  Siapa yang mampu mengatur waktu? Tentu tidak ada. Sebab, kita hanya berjalan di dalamnya. Dan terus-terusan begitu. Kita hanya menjalani waktu itu --sebagian kecilnya kita rencanakan, sebagian besarnya adalah misteri. Rencana juga, tidak semua mengatur waktu. Kadang, rencana hanya tinggal rencana. Dan begitulah awal pertemuan saya dengan Bang Hikmat Darmawan. Jumat pagi lalu, saya bangun seperti biasa --dengan rencana-rencana yang dibuat. Hari sebelumnya, saya berdiskusi dengan mahasiswa kampus mengajar --SMPN 1 Sesean. Di Toraja Utara. Jaraknya cukup menguras kesabaran, butuh waktu 30 menit, dengan kendaraan roda dua. Belum lagi jalannya --berlubang dan berliku. Saya berangkat --sedikit terburu-buru. Di rumah, saya belum sempat sarapan --nanti di depan Rektorat UKI Toraja. Di situ, ada dua penjual gado-gado. Juga penjual bubur kacang hijau. Langganan saya. Penjualnya sangat hangat, baik dan ramah. Walau, kami tidak saling tahu nama. Persetan soal nama, apalagi agama. Terpent...

Bagaimana Hukum Menuju Kematian

Gambar
  Dalam catatan Yuval Noah Harari; Sapiens --sejarah singkat umat manusia, penulis kelahiran negara apartheid Israel itu mendeskripsikan secara detail, bagaimana manusia itu bermula. Tepatnya, perubahan dasar dari sebuah evolusi; binatang ke manusia --berkat daya khayal atau imajinasi. Lalu, pelan dan pasti mengikat kelompok kecil. Lalu, kelompok besar. Dan seterusnya, hingga kini.  Dari situ pulalah bermula politik dan hukum itu. Dan, terus mengalami evolusi; filsafat, sejarah, bentuk, ukuran dan tujuannya. Bahkan, masih terus tumbuh dan berubah. Terus-terusan begitu. Ada yang pesimis --hukum masuk dalam ranah privat-- yang sebenarnya tidak perlu terikat. Karena, ia berada dalam jarak asasi --tiap orang dan tiap kepala punya hak. Tapi, ada juga yang progresif dan radikal. Mempertimbangkan keadilan gender. Utamanya perempuan. Semacam gerakan kesetaraan --mengintip patriarki yang kebanyakan ada kuasa gender tertentu disitu. Sangat menarik --sayang, itu bukan Indonesia. Se...

Maqbul Halim Caleg Yang Callege-lege

Gambar
  Saya tidak tahu persis waktunya; untuk pertama kali saya bertemu Maqbul Halim atau MH. Seingat saya, antara 2017 atau 2018. Hanya itu yang terlintas. Tapi, sejak saat itu, saya benar-benar melihat MH ini, sebagai politisi yang agak lain. Agak lain dalam perspektif etis. MH seperti punya magis-nya sendiri --di mata saya. Gaya bicaranya yang ceplas ceplos. Kadang-kadang, melawan arus, dari alur pikir pada umumnya. Seringkali, mengambil diksi yang membuat jurnalis berkerut. Seperti, ketika saya wawancara dulu, soal kader Golkar pindah partai. MH menyebut jika kader itu ibarat kanker. Jika tidak dioperasi, akan berbahaya. Tidak salah, Golkar pernah menunjuk MH sebagai Ketua Bidang Media dan Penggalangan Opini. Kupikir pertimbangannya jelas. Lagian, secara kapasistas dan legal standingnya, MH tepat disitu. Lalu, terjadi banyak diorama politik. Membuat MH menyingkir dari Golkar, hingga kini. Tapi, MH tetaplah MH --punya daya magisnya sendiri. Pilwalkot Makassar 2018, jadi babak b...