Postingan

Imajinasi Elon Musk

Gambar
Pagi-pagi saya membaca tulisan Bung Yusran; sungguh menyenangkan. Lelaki gagah asal Buton ini terlampau renyah tulisannya. Di Makassar, namanya harum seperti bunga mawar. Dikalangan perempuan; seharum itu? Entah. Tapi kalau dipikir-pikir, pria yang mengaku sebagai pelatih kucing ini; hmm-- tidak salah, banyak idolanya. Anak-anak milenial apalagi.   Dalam tulisan baru Bung Yusran di facebook, ia menginformasikan sedang membaca biografi  Elon Musk. Salah satu manusia terkaya di bumi. Empunya Tesla; mobil listrik yang pernah jadi kebanggaan Bung Dahlan Iskan-- semasa Blio jadi Menteri. Itu sudah lama. Barangkali juga sudah dilupa. Atau juga barangkali kita yang mencibirnya dulu telah tobat dan berubah.   Oke kembali laptop, poin yang disampaikan Bung Yusran, soal imajinasi Elon Musk. Sejujurnya, saya belum membaca biografi si Elon ini. Tapi ada yang menarik dari telusuran Bung Yusran. Konon katanya, Elon ini menghabiskan waktu sepuluh jam sehari untuk membaca. Wow; m...

Kedok Belanda Teliti Sejarah Indonesia

Gambar
Masih ingat kunjungan Raja Belanda Willem Alexander dan Ratu Maxima di Indonesia? Jika sudah lupa, kita ingatkan kembali-- kunjungan itu dilaksanakan tanggal 9-13 Maret 2020. Itu adalah kunjungan kenegaraan khusus.   Salah satunya misinya adalah melakukan permintaan maaf atas agresi militer Belanda pasca Indonesia mengumandangkan kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.   Pada waktu itu, sejujurnya saya sangat respek atas sikap Belanda itu. Tapi akhir-akhir ini saya mulai ragu. Walau keraguan itu sudah terlambat. Sebab ada sejumlah orang yang mempertanyakan itu.   Salah satunya, kolumnis dan jurnalis; Rahadian Rundjan. Dalam sebuah kolom di DW Indonesia, Rahadian mempertanyakan ketulusan Belanda untuk meminta maaf-- patut dicurigai sebagai bagian pelarian pelanggaran HAM.   Permintaan maaf oleh Belanda memang aneh. Pasalnya pada tahun 1995 dan tahun 2000, Belanda juga pernah berniat melakukan hal yang sama. Tapi di dua waktu yang berbeda setengah dekade itu...

Toraja Surganya Pluralisme (Bagian 2)

Gambar
Pekan pertama pada September 2021. Saya semakin lancar berkomunikasi dengan Ibu Dekan-- Anastasia Baan. Tidak seperti diawal-- ada perasaan canggung-- intensitasnya cukup tinggi. Barangkali sudah berinteraksi lama. Maka saya mulai merasa nyaman. Termasuk berkomunikasi tentang kampus dan berbagai hal lain.   Di pekan pertama itu juga-- kalau tidak salah ingat. Ibu Anastasia memberikan informasi jika perkuliahan akan segera dilaksanakan. Perkiraan Ibu Anastasia ketika itu, akan dimulai pada pekan ketiga atau keempat September. Karenanya saya lalu diminta berkomunikasi dengan Kaprodi, Pak Ketut Linggih-- saya iyakan.   Anda tidak salah baca-- Ketut Linggih. Orang asli Bali. Tapi sudah puluhan tahun di Toraja. Kehadiran Pak Ketut membuat saya semakin yakin akan Toraja-- keterbukaan dan pluralismenya. Barangkali di lain waktu saya akan wawancara khusus dengan Pak Ketut. Kenapa dan bagaimana Blio sampai ke Toraja.   Kembali ke topik. Diwaktu yang bersamaan. Masa-masa ...

Toraja Surganya Pluralisme (Bagian 1)

Gambar
Tahun 2021 lalu, di sebuah group whatsapp. Jika tidak salah ingat, hari itu di bulan Juli. Salah satu dosen saya-- Ibu Dr. Nurhikmah H., M.Si. membagikan pengumuman. Saya lupa persis kalimatnya. Pada intinya, kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI) Toraja sedang ada lowong untuk lima orang dosen.   Membaca pengumuman itu. Tidak pikir panjang-- langsung menghubungi Ibunda Nurhikmah. Syukur direspon dengan sangat baik. Dimintalah segala macam berkas kelengkapan administrasi. Juga dikirimkan nomor Dekan FKIP UKI Toraja, Ibu Anastasia Baan.   Dari situ, komunikasi berlanjut ke Ibu Anastasia. Ibunda Nurhikmah hanya menitip pesan. Singkat dan padat-- “jika diterima jaga nama baik kampus”. Saya tidak kaget atas pesan itu. Selama saya kuliah, baik ketika S1 maupun S2, rasa-rasanya Ibunda Nurhikmah kokoh dengan kalimatnya itu-- penelitian dan pengabdian.   Beberapa lama kemudian. Saya dihubungi Ibu Anastasia. Diminta untuk melengkapi berkas pendukung lainnya. Termas...

Kartu Sembako Murah Dicari Rakyat

Gambar
  Kemarin ada gosip terpanas. Warga heboh. Juga terkaget-kaget. Bakso langganan naikkan harga. Dulu, seribu sebiji. Ada uang Rp.2.000. Sudah makan bakso; ditusuk. Sekarang tidak lagi. Uang Rp.2.000 tidak berlaku lagi. Setidaknya untuk si Senyum; tinggi, kulit agak legam, gigi putih, murah senyum. Langganan warga.   Saya jauh. Sekitar 290 km. Tapi gosip itu terlanjur viral. Jadilah saya terseret juga. Musababnya keluarga di rumah--istri menelfon. Untuk makan bakso, katanya wajib siapkan Rp.5.000. Itu pun hanya dapat tiga biji. Harga krupuk pangsit juga. Tidak ketinggalan, naik.   Lalu, usut punya usut. Harga daging di pasar mahal. Seorang keluarga. Kebetulan jual daging di Pasar Terong. Membuat pengakuan. Katanya sulit dapat stok daging. Pusing juga. Karena mau masuk ramadan? Itu belum terjawab. Bisa jadi, iya.   Tapi tunggu, saya khawatir. Langganan coto saya di Antang--Coto Deng Muji, tepat di depan Kampus UPRI. Mungkin akan bernasib sama; naikkan harg...

Ironi Minyak Goreng

Gambar
Sebuah ironi, tentu saja. Negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Terbesar lo ini. Tapi, sungguh sayang. Untuk urusan minyak goreng. Masih tepuk jidat. Seperti tak kuasa. Padahal segala perangkat telah disediakan. Ampun.   Mungkin, karena tidakmampuan. Ibu-ibu yang aktif antri, diminta kreatif. Tidak sedikit disalahkan. “Apakah ibu-ibu di seluruh Indonesia itu menggoreng?” kesel Ibu Mega. Ya tidak tahu ya, apakah Ibu Mega pernah menggoreng atau tidak.   Belum lagi Pak Menteri. Straight, tidak ada basa-basi. Menyalahkan ibu-ibu. Katanya, panic buying. Aduh Pak Menteri. Ibu-ibu, jika lihat barang murah. Ya diborong Pak. Bayangkan Pak, selisih seribu rupiah. Ibu-ibu rela keliling pasar.   Pak Menteri sih, jarang ikut istri belanja di pasar. Oh maaf, Pak Menteri. Istri Anda mungkin tidak belanja di pasar--yang masih tawar menawar. Istri Anda belanja di Mall. Gucci. Louis Vuitton. Lagian, mungkin istri Anda tidak pernah menggoreng. Semua serba instan. Lang...

Pegawai Alfamart Bantaeng Cegah Penipuan Online

Gambar
Dunia hiburan memang sangat menarik. Apalagi jika memang sesuai tujuannya; menghibur. Tapi, terus terang saja. Sekarang ini saya sangat pemilih. Apalagi jika tentang hiburan di televisi. Sinetron misalnya. Tidak ada menariknya --sama sekali. Saya tidak seperti Mahfud MD yang suka Ikatan Cinta. Untuk mendompleng kenarsisan.   Tidak-tidak. Saya tidak seperti itu. apalagi sampai memberi komentar. Hahaha. Itu menjijikkan --hanya bermodal suka atau ikut trend lalu memberi komentar sembrono. Taek kan.   Dulu. Ini dulu. Ketika televisi masih jadi barang berharga di kampung. Tidak ada pilihan lain selain sinetron. Bahkan rela-relain nitip nonton di rumah tetangga. Tetangga yang jaraknya kilometer. Paling sial jika pintu rumah tidak dibuka. Terpaksa nonton dari balik jendela. Itu juga jika sedang beruntung. Adakalanya pulang tanpa bawa cerita apapun.   Entah dimulainya karena apa. Atau tahun yang ke berapa. Televisi tidak semenarik dulu. Pernah saya menulis jika televi...