Postingan

Rusdi Masse Revolusi Gerakan Politik NasDem

Gambar
  Tanah Sulawesi, tempatnya para pemberani lahir. Sejarah telah memberi banyak bukti. Dari perlawanan kepada penjajah seperti Sultan Hasanuddin. Penjelajah intelektual semacam Karaeng Pattingalloang. Negosiator ulung di dalam diri Jusuf Kalla. Hingga aktivis tulen disematkan kepada Rahman Tolleng.   Para tokoh itu menjadi patron tanah Sulawesi dimasanya. Rasa-rasanya mereka akan terus tumbuh dalam ingatan. Menjadi inspirasi anak-anak muda-- bergerak maju dan tumbuh menyonsong masa depan. Terutama mengejar masa depan cita-cita luhur bangsa pada sila kelima Pancasila.   Dan barangkali diantara anak muda itu, salah satunya adalah Rusdi Masse. Seorang yang merelakan diri untuk terbuang ke Jakarta. Jauh dari kampung halaman. Berjuang di tengah kerasnya kehidupan di Pelabuhan Tanjung Priok. Kisahnya berkali-kali saya dengar dari sejumlah teman.   Katanya, sulit dan bercucuran keringat. Seperti kata Rhoma Irama dalam lagunya “Perjuangan dan Doa”-- RMS begitu s...

Si Anak Kampung Kini Berpulang

Gambar
Hari ini, kita berduka. Seorang guru bangsa telah berpulang-- Ahmad Syaafii Maarif. Mantan Ketua Umum Muhammadiyah itu berpulang usai dirawat di sebuah rumah sakit di Yogyakarta. Innalillahi wainnailaihi rojiun. Saya bersentuhan dengan pikiran Buya-- sapaan akrab Ahmad Syaafii Maarif ketika membaca sebuah novel. Ditulis dengan cukup apik oleh Damiem Dematra. Judulnya Si Anak Kampung-- ini saya dapati dipenjual buku murah beberapa tahun silam. Berkisah tentang masa kecil Buya. Judul itu sebenarnya sebutan yang sangat disukai Buya.   Musababnya karena tahu diri-- lahir di sebuah kampung di Desa Calau. Sebuah perkampungan yang sangat terpencil di Minangkabau, Sumatera Barat. Listrik baru masuk di wilayah ini tahun 2005. Buya lahir dari seorang bapak yang terpandang. Seorang kepala nagari.   Ibunya seorang dengan pengetahuan yang terbuka. Mendidik Buya kecil dengan sangat baik. Sayang, Ibu Buya berpulang cepat ketika usianya sekitar 2 tahun. Mau tidak mau Buya dirawat ol...

Imajinasi Elon Musk

Gambar
Pagi-pagi saya membaca tulisan Bung Yusran; sungguh menyenangkan. Lelaki gagah asal Buton ini terlampau renyah tulisannya. Di Makassar, namanya harum seperti bunga mawar. Dikalangan perempuan; seharum itu? Entah. Tapi kalau dipikir-pikir, pria yang mengaku sebagai pelatih kucing ini; hmm-- tidak salah, banyak idolanya. Anak-anak milenial apalagi.   Dalam tulisan baru Bung Yusran di facebook, ia menginformasikan sedang membaca biografi  Elon Musk. Salah satu manusia terkaya di bumi. Empunya Tesla; mobil listrik yang pernah jadi kebanggaan Bung Dahlan Iskan-- semasa Blio jadi Menteri. Itu sudah lama. Barangkali juga sudah dilupa. Atau juga barangkali kita yang mencibirnya dulu telah tobat dan berubah.   Oke kembali laptop, poin yang disampaikan Bung Yusran, soal imajinasi Elon Musk. Sejujurnya, saya belum membaca biografi si Elon ini. Tapi ada yang menarik dari telusuran Bung Yusran. Konon katanya, Elon ini menghabiskan waktu sepuluh jam sehari untuk membaca. Wow; m...

Kedok Belanda Teliti Sejarah Indonesia

Gambar
Masih ingat kunjungan Raja Belanda Willem Alexander dan Ratu Maxima di Indonesia? Jika sudah lupa, kita ingatkan kembali-- kunjungan itu dilaksanakan tanggal 9-13 Maret 2020. Itu adalah kunjungan kenegaraan khusus.   Salah satunya misinya adalah melakukan permintaan maaf atas agresi militer Belanda pasca Indonesia mengumandangkan kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.   Pada waktu itu, sejujurnya saya sangat respek atas sikap Belanda itu. Tapi akhir-akhir ini saya mulai ragu. Walau keraguan itu sudah terlambat. Sebab ada sejumlah orang yang mempertanyakan itu.   Salah satunya, kolumnis dan jurnalis; Rahadian Rundjan. Dalam sebuah kolom di DW Indonesia, Rahadian mempertanyakan ketulusan Belanda untuk meminta maaf-- patut dicurigai sebagai bagian pelarian pelanggaran HAM.   Permintaan maaf oleh Belanda memang aneh. Pasalnya pada tahun 1995 dan tahun 2000, Belanda juga pernah berniat melakukan hal yang sama. Tapi di dua waktu yang berbeda setengah dekade itu...

Toraja Surganya Pluralisme (Bagian 2)

Gambar
Pekan pertama pada September 2021. Saya semakin lancar berkomunikasi dengan Ibu Dekan-- Anastasia Baan. Tidak seperti diawal-- ada perasaan canggung-- intensitasnya cukup tinggi. Barangkali sudah berinteraksi lama. Maka saya mulai merasa nyaman. Termasuk berkomunikasi tentang kampus dan berbagai hal lain.   Di pekan pertama itu juga-- kalau tidak salah ingat. Ibu Anastasia memberikan informasi jika perkuliahan akan segera dilaksanakan. Perkiraan Ibu Anastasia ketika itu, akan dimulai pada pekan ketiga atau keempat September. Karenanya saya lalu diminta berkomunikasi dengan Kaprodi, Pak Ketut Linggih-- saya iyakan.   Anda tidak salah baca-- Ketut Linggih. Orang asli Bali. Tapi sudah puluhan tahun di Toraja. Kehadiran Pak Ketut membuat saya semakin yakin akan Toraja-- keterbukaan dan pluralismenya. Barangkali di lain waktu saya akan wawancara khusus dengan Pak Ketut. Kenapa dan bagaimana Blio sampai ke Toraja.   Kembali ke topik. Diwaktu yang bersamaan. Masa-masa ...

Toraja Surganya Pluralisme (Bagian 1)

Gambar
Tahun 2021 lalu, di sebuah group whatsapp. Jika tidak salah ingat, hari itu di bulan Juli. Salah satu dosen saya-- Ibu Dr. Nurhikmah H., M.Si. membagikan pengumuman. Saya lupa persis kalimatnya. Pada intinya, kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI) Toraja sedang ada lowong untuk lima orang dosen.   Membaca pengumuman itu. Tidak pikir panjang-- langsung menghubungi Ibunda Nurhikmah. Syukur direspon dengan sangat baik. Dimintalah segala macam berkas kelengkapan administrasi. Juga dikirimkan nomor Dekan FKIP UKI Toraja, Ibu Anastasia Baan.   Dari situ, komunikasi berlanjut ke Ibu Anastasia. Ibunda Nurhikmah hanya menitip pesan. Singkat dan padat-- “jika diterima jaga nama baik kampus”. Saya tidak kaget atas pesan itu. Selama saya kuliah, baik ketika S1 maupun S2, rasa-rasanya Ibunda Nurhikmah kokoh dengan kalimatnya itu-- penelitian dan pengabdian.   Beberapa lama kemudian. Saya dihubungi Ibu Anastasia. Diminta untuk melengkapi berkas pendukung lainnya. Termas...

Kartu Sembako Murah Dicari Rakyat

Gambar
  Kemarin ada gosip terpanas. Warga heboh. Juga terkaget-kaget. Bakso langganan naikkan harga. Dulu, seribu sebiji. Ada uang Rp.2.000. Sudah makan bakso; ditusuk. Sekarang tidak lagi. Uang Rp.2.000 tidak berlaku lagi. Setidaknya untuk si Senyum; tinggi, kulit agak legam, gigi putih, murah senyum. Langganan warga.   Saya jauh. Sekitar 290 km. Tapi gosip itu terlanjur viral. Jadilah saya terseret juga. Musababnya keluarga di rumah--istri menelfon. Untuk makan bakso, katanya wajib siapkan Rp.5.000. Itu pun hanya dapat tiga biji. Harga krupuk pangsit juga. Tidak ketinggalan, naik.   Lalu, usut punya usut. Harga daging di pasar mahal. Seorang keluarga. Kebetulan jual daging di Pasar Terong. Membuat pengakuan. Katanya sulit dapat stok daging. Pusing juga. Karena mau masuk ramadan? Itu belum terjawab. Bisa jadi, iya.   Tapi tunggu, saya khawatir. Langganan coto saya di Antang--Coto Deng Muji, tepat di depan Kampus UPRI. Mungkin akan bernasib sama; naikkan harg...