Postingan

Sinjai Bersatu Sunyi Dikelakuan

Gambar
Sejak kepengurusan Vakum selama setengah dekade. Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Sinjai (HIPPMAS) kembali melaksanakan Kongres. Sungguh kabar yang mulai terhembus sejak tahun lalu itu membuat saya ikut bersemangat. Meski selama kuliah tidak pernah terlibat aktif di dalamnya.   Sebenarnya bukan tidak mau ikut berpartisipasi. Tapi ada satu peristiwa yang membuat saya enggan ikut terlibat. Saya lupa persisnya tahun berapa. Saya ikut kegiatan DPK Sinjai Selatan. Waktu itu berniat dan berminat menjadi bagian dari oraganisasi ini. Pikiran saya ketika itu wajib dimulai dari tingkat kecamatan dulu.   Tapi apa mau dikata. Dialektika yang saya harap tapi kemudian pertikaian yang menguat. Sejumlah mahasiswa yang ketika itu terlibat dalam debat tanpa ada jalan tengah. Saya masih memaklumi dinamika itu. Wajar saya pikir, jika hal seperti terjadi dalam sebuah oragansasi. Tapi kemudian berujung perkelahian-- saya menghindar.   Dari peristiwa itulah minat saya ber-HIPPMAS...

Mencintai Maros Merawat Masa Depan

Gambar
Berbicara tentang Sulawesi Selatan, itu berarti bukan hanya tentang Makassar. Terlalu naif rasanya jika demikian. Banyak hal bisa ditemukan di tempat lain di wilayah ini. Misalnya, Toraja dengan destinasi wisata adat dan budayanya. Bulukumba dengan bira dan tebing-tebing soleknya. Selayar dengan pantai-pantai indahnya. Sinjai dengan ikannya.   Di luar dari itu. Ada satu daerah yang sangat unik. Sukar dan mungkin tidak dapat ditemukan di tempat lain; Maros. Di sini, kita akan terbawa mundur ke belakang; jauh. Sangat jauh. Tidak puluhan tahun atau ratusan tahun. Tapi ribuan tahun. Bahkan puluhan tahun. Maros itu perangkap waktu. Atau mungkin mesin waktu. Itu luar biasa.   Mula-mula Maros mulai menarik diperbincangkan ketika Alfred Russel Wallace datang ke Maros. Itu tahun 1857. Sekitar September atau November. Usinya ketika itu masih 34 tahun. Wallace diperkenalkan oleh keluarga Willem Landeert Mesman. Wallace lalu menelusuri sungai ke utara Makassar. Menemukan banyak ...

Mata Ketiga yang Digaibkan

Gambar
Anak yang malang. Barangkali itu cukup mewakili AP. Seorang bocah perempuan berusia 6 tahun di Gowa. Jika rumah tempat berlindung atau keluarga sebagai pelindung; tidak berlaku baginya. Rumah hanya sebuah bangunan kosong. Tak ada isi; kepercayaan, kejujuran, cinta dan kasih sayang. Dan keluarga hanya sebuah nama. Tak lebih dari sebuah onggokan daging yang menumpang. Sebuah bisikan gaib. Merubah nasib anak malang itu. Keluarganya; Ibu, Ayah, Kakek dan Paman mencongkel matanya. Anak itu berteriak. Manusia-manusia laknat itu tidak bergidik sedikitpun. Bisikan itu terlalu kuat; barangkali. Tetesan darah merah mengalir. Kesakitan tapi tidak dapat berbuat banyak. Kaki dan tangannya dipegang.   Terdengar miris. Tetangga datang. Juga memberi bantuan kepada anak malang itu. Hingga sampai ke telinga polisi. Dilakukan penyelidikan. Hasilnya, dua orang ditetapkan sebagai tersangka. Itu berarti ini murni penganiyaan. Bukan kerasukan --barangkali akal-akalan. Secara hukum, penganiayaan...

Pendekar Hukum Baharuddin Lopa

Gambar
Menghukum dalam hukum adalah ketidakberhasilan hukum. Tapi inilah yang terjadi. Kupikir ini sebagai narasi yang pas untuk kondisi hari ini. Yah begitulah, situasi dan kondisi pada negara hukum hari ini. Kita selalu menekankan agar hukum berhasil menghukum. Tapi kita cukup sulit atau bahkan sangat sulit menemui hukum memberikan kesadaran hukum.   Mungkin saja, ini adalah bagian dari maksud Adnan Buyung Nasution dengan mendirikan Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Apalagi dalam bukunya Demokrasi Konstitusional. Di dalam buku itu, Adnan sangat gamblang membicarakan bagaimana negara demokrasi seharusnya bekerja. Terutama dalam hal penegakan hukum berdasarkan Hak Asasi Manusia (HAM).   Karenanya demokrasi hanya sebuah utopia jika penegakan hukum terabaikan. Sebab instrumen yang sangat penting dalam demokrasi itu adalah penegakan hukum yang jujur dan adil. Seharusnya, hukum harus terjaga moralnya agar memicu pengetahuan kesadaran dan pengakuan. Karenanya, jika kita berkaca hari ...

Malamoi

Gambar
  Suku Malamoi merupakan suku asli Sorong, Papua Barat. Seperti suku lain di Indonesia, Suku Malamoi memiliki adat yang kuat. Termasuk diantaranya tata cara menata kehidupan. Mereka hidup dari tanah; makan dari tanah. Mati juga akan menjadi tanah; makam di tanah. Itu pegangan Suku Malamoi. Karenanya sistem adat terkait tanah sangatlah dijaga kesakralannya.   Salah satu penentuannya melalui sidang adat. Ini merupakan bagian terpenting. Sifatnya mistis. Memiliki keunggulan. Salah satunya menyelesaikan konflik etnik dalam masyarakat; mudah dan sederhana. Atas manfaatnya itu, sidang adat mendapat dukungan pemerintah Kabupaten Sorong. Lahirlah; Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Malamoi.   Suku Malamoi terdiri atas 12 rumpun yang hidup rukun. Diantaranya Moi Kilin, Moi Sigali/Moi Mare, Moi Maya, Moi Klasa, Moi Moraid, Moi Seget, Moi Klabra, Moi Madik, Moi Karon, Moi Meiyakh, Moi Batan Mee/Batbat, dan Moi Fiyawat. Mereka mendiami hampir seluruh wilayah Sorong; sekitar 400 ...

Kemewahan Wawan Mattaliu

Gambar
Tahun 2016, saya diberi mandat oleh kantor untuk bekerja dan meliput di Kantor DPRD Sulsel. Saya sudah lupa persisnya di bulan berapa. Yang pasti, sebagai anak baru saya tentu harus banyak belajar. Termasuk mengetahui nama-nama para anggota yang duduk sebagai perwakilan rakyat Sulsel.   Ketika itu, sudah mulai agak siang. Barangkali sudah lewat jam 10. Saya tiba di ruang media centre DPRD Sulsel. Di depan pintu ruangan itu ada tangga menuju lantai dua. Di situ, saya melihat seorang laki-laki melempar senyum hangat kepada saya. Laki-laki itu menikmati sebatang rokok sambil duduk di tangga.   Karena tidak kenal saya hanya membalas senyumnya lalu masuk ke ruangan. Sekitar dua hari setelah itu, saya kembali berjumpa dengannya. Kembali sambil tersenyum dan saya membalasnya. Karena penasaran, saya lalu bertanya ke jurnalis lain. Siapa gerangan orang yang sering duduk di tangga di depan ruang media center.   Disebutlah nama Wawan Mattaliu. Anggota DPRD Sulsel dari ...

Sampai Kapan Kita Pelihara Keterbelahan

Gambar
Pasca Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 lalu. Keterbelahan arus pemilih terus menjalar hingga hari ini. Bahkan ketika Pilkada DKI tahun 2017 membuat keterbelahan menjadi lebih rumit. Sebab arus pemilih Pilpres 2014 berubah menjadi arus pemilih di Pilkada DKI.   Gonjang-gonjing wacana keterbelahan itu terus berputar tanpa henti. Atau mungkin tepatnya tidak ingin dihentikan. Bahkan ada yang memprediksi akan sampai pada Pilpres 2024 mendatang. Kedua kubu terus-terusan saling intip dan saling serang. Kadrun dan cebong bertikai tiada kata berhenti.   Pertikaian ini tidak akan bernilai apa-apa dan tidak bermanfaat apa-apa. Kecuali bagi mereka yang dibalik layar pertengkaran itu. Mereka yang menggiring opini publik untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Mereka yang dengan ceria mengabaikan hati nurani dan masa depan kebangsaan.   Dilain pihak, pemerintah seperti acuh dan tidak mau tahu atas situasi kritis ini. Pemerintah seperti tidak memandang penting. Karena bar...