Postingan

Ma’nene dan Tradisi Membangunkan Mayat di Toraja

Gambar
Awal Agustus lalu, seorang kawan mengabari jika akan berkunjung ke Toraja. Kawan ini tidak sendiri, ada kawannya juga dari Jakarta yang akan menemani. Saya tentu menyambut dengan antusias. Untuk mobilitasnya di Toraja nanti, saya diminta untuk mencarikan tempat sewa motor. Saya lalu menyanggupi itu. Besoknya, saya memberi sejumlah kontak beberapa penyewaan motor.   Percakapan itu terus berlanjut hingga kawan ini tiba di Makale, Kabupaten Tana Toraja. Malamnya, kita mengatur jadwal untuk bertemu sambil bernostalgia. Sebab kawan ini pernah satu kantor dengan saya di Kantor Berita Harian Rakyat Sulsel. Namanya Kifli. Kifli lebih dulu tiba di sebuah warung kopi, dekat pinggir sungai yang membelah Kota Makale.   Di warung kopi itu, Kifli rupanya tidak sendiri. Dia juga janjian untuk bertemu Arnas, fotografer kece yang kini bekerja untuk Kantor Berita Antara. Kifli dan Arnas satu organisasi di PFI. Tapi, ini kali pertama saya bertemu dengan Arnas. Perawakannya tinggi besar, ...

Dari Rekayasa Kasus ke Reformasi Polri

Gambar
Sebulan lebih kita disajikan tontonan bak sinetron. Judulnya “Polisi Tembak Polisi”. Tempat kejadian perkara di rumah dinas mantan Kadiv Propam Polri, Irjen Pol. Ferdy Sambo. Kasus ini bermula ketika kasus kematian Brigadir J diungkap ke publik tiga hari pasca kejadian. Kecurigaan pun muncul; banyak proses dalam tiga hari itu dapat direkayasa. Atau barangkali banyak skenario yang sedang dijalankan.   Indikasinya adalah ketika pihak keluarga tidak diperkenankan untuk melihat jenazah Brigadir J juga begitu lamanya proses kasus ini baru diungkap mengundang atensi publik. Media juga terus melakukan sejumlah up date terbaru mengenai kasus ini. Sejumlah wartawan bahkan terjun langsung di TKP. Sayang, wartawan yang sedang bekerja itu katanya juga dihadang oleh polisi berpakaian preman.   Publik pun semakin curiga. Ini ada apa? Pertanyaan itu terus mengemuka. Lalu pelan dan pasti, sejumlah fakta mulai terungkap. Salah satunya ditetapkannya Ferdy Sambo sebagai tersangka. Selu...

Membaca Ulang Soedjatmoko, Melahirkan Kembali Indonesia

Gambar
Memulai tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Asia Justice and Rights (AJAR) dan Future Indonesia telah mengenalkan seorang tokoh bangsa kepada saya dan generasi muda lain di seluruh Indonesia. Generasi yang kita harap cepat dalam segala hal, termasuk dalam aspek keterbukaan pengembangan ilmu pengetahuan yang mengedepankan keseimbangan alam dan kemanusiaan di atas segalanya. Seperti cita-cita mulia dan diidam-idamkan oleh Soedjatmoko di masa hidupnya.   Dari sini, pengakuan seharusnya dan sewajibnya saya katakan. Jika tidak demikian, rasa-rasanya saya tidak pantas untuk menuliskan pikiran-pikiran Soedjatmoko yang begitu brilian. Bahwa saya baru pertama kali ini saya membaca tentang Soedjatmoko-- sebuah fakta yang barangkali patut saya tertawakan kepada diri sendiri. Sebab, selama pergulatan kehidupan saya, dari mengenyam pendidikan dasar hingga saat ini bekerja di sebuah kampus swasta, inilah pertama kali saya bersentuhan dengan pemikiran-pemikiran Soedjatmo...

Rancangan Kitab Undang Undang Hukum Penguasa (RKUHP)

Gambar
Utak atik Rancangan Kitab Undang Undang Hukum Pidana (baca: RKUH Penguasa) oleh pemerintah terus dilakukan. Bahkan gimmick kecurangan dalam pemulusan pengesahan undang-undang kontroversi itu terang-terangan terjadi. Publik sepertinya pengen dikibuli lagi dan lagi. Setelah sejumlah undang-undang kontroversial lainnya lolos disahkan oleh Dewan Perwakilan (baca: Pengkhianat) Rakyat (DPR).   Buktinya, draft RKUHP itu sulit didapatkan publik. Pekan lalu bahkan, draft terbaru yang dimiliki publik adalah draft yang sebelumnya akan disahkan pada tahun 2019. Seperti yang kita tahu, pada tahun itu pengesahan RKUHP ini dibatalkan akibat penolakan publik yang sangat luat biasa hampir di seluruh Indonesia. Hal itu yang kemudian membuat Presiden RI, Joko Widodo memutuskan untuk menghentikan pengesahan RKUHP.   Kini, rencana pengesahan yang seperti disembunyikan itu kembali mendapat penolakan dari publik. Sikap diam-diam ini dapat dimaknai sebagai bentuk “kecurangan” dalam demokrasi ...

Eksistensi Benda dan Kebebasan Berpikir

Gambar
  Lagi-lagi manusia. Iya lagi-lagi manusia yang menjadi segala sumber segala sesuatu. Dalam keterangannya sebagai kebebasan berpikir, manusia melahirkan pemberontakan sekaligus penghancuran pada keadaan-keadaan hari ini.   Entah sampai kapan, padahal kebebasan berpikir pada dasarnya berujung pada kesadaran. Akan tetapi, tidak semua manusia menemukan itu. Tidak semua manusia mencapai dalamnya kedalaman itu. Sekali lagi, tidak semua. Sebab itu adalah kompleksitas yang butuh perenungan ke dalam diri.   Kebebasan berpikir pada umumnya hari ini hanya melahirkan eksistensialis seperti yang diperingatkan oleh Jean Paul Sartre, seroang pernulis dan peraih nobel sastra (1964) Prancis. Bahwa ancaman itu pada dasarnya datang dari benda seperti dalam novelnya La Nausse.   Iya, begitulah sejatinya manusia hari ini. Bahwa benda lebih menarik untuk diperkenalkan karena dapat melahirkan daya pikat yang luar biasa. Sehingga, kebebasan berpikir itu menjadi lemah karenya....

Pendidikan dan Kesadaran Bernegara

Gambar
Dalam sebuah tulisan saya pada latar belakang untuk tugas akhir di kampus, saya menuliskan bahwa pendidikan adalah hal yang urgent dalam sebuah negara (baca: rakyat dan pejabat). Kupikir, hal hanya sebagai simpulan saya sebagaimana dalam pasal 31 Undang Undang Dasar 1945.   Oleh karenanya, dalam tatanan kritis dasar penulisan tugas akhir itu untuk mengingatkan kepada negara bahwa ada sebuah kewajiban yang tertuang dalam konstitusi terutama hak warga negara dalam mengakses pendidikan. Karenanya, hal ini jangan dibuat ambigu.   Meski pada pelaksanaannya, pendidikan diperhadapkan pada sejumlah masalah yang krusial dan kompleks seperti daerah terpencil di tengah hutan atau disebuah lembah pegunungan seperti yang terjadi di Papua, maupun yang terkait dengan kepulauan yang terbentang jauh dan banyak.   Akan tetapi, hal ini perlu dimaknai secara tidak serampangan. Bahwa hal ini membuat pemerataan pendidikan itu menjadi sulit-- ya tentu saja. Tapi tidak perlu melaku...

Kristina Gagal ke Istana

Gambar
Sebuah pengumuman kecil di sekolah. Akan ada seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Sejumlah persyaratan tertulis disitu. Jelas; tanpa kurang apapun --tak ada jalur khusus atau rekomendasi. Kristina membacanya. Ia akan ikut seleksi. Maka sejumlah persiapan dilakukan. Termasuk fisik dan mental, tentu saja. Bagian itu paling penting.   Hasil seleksi; Kristina salah satu yang terbaik. Tahapan dilahap habis. Penuh keringat. Penuh perjuangan. Bermodal semangat anak kampung; berani mengejar cita-cita ke kota. Rupanya itu tidak cukup. Kota terlampau keras. Sedang Kristina polos; tak tahu apa-apa. Intinya maju. Bersama Arya Maulana, dinyatakan mewakili daerahnya; Sulawesi Barat.   Nama Kristina memang manis. Sayang, nama manisnya itu tak berbuah manis. Harus gigit jari. Ia gagal ke Jakarta. Tugas mulia; Paskibraka, sirna di depan mata. Musababnya sederhana. Katanya, Kristina positif covid-19. Sungguh disayangkan. Kecewa tentu saja. Ini bukan saja tugas mulia. ...